LingkarBadan : ukur melingkari bagian badan atas melalui puncak payudara, ukur longgar sekitar empat jari; Lingkar Pinggang : ukur pas melingkari bagian tengah terkecil pinggang; Lingkar Pinggul : ukur longgar melingkari badan sebelah bawah melalui pinggul; Panjang Dada : ukur dari lekuk leher bagian bawah sampai batas pinggang depan Caramengambil ukuran badan calon pemakainya, dapat disimak pada video berikut: 2 - MEMBUAT GAMBAR POLA BLAZER BAGIAN DEPAN Pola blazer bagian depan yang baru selesai digambar merupakan dasar untuk membuat pola blazer bagian belakang. Pedoman yang harus diperhitungkan adalah dasar-dasar hitungan yang berikut: KeteranganPola : A - B = 1/2 Lingkar badan + 7 cm A - C = Panjang Punggung A - E = 1/4 Lingkar Badan + 0.5 cm A - a = B - b = 1/20 Lingkar badan + 2.5 cm B - b* = A - a + 1.5 cm E - F = Dibagi tiga bagian besar Pola Dasar Anak Laki-laki CaraMembuat Pola Dasar Baju Wanita Dewasa Sebenarnya dalam membuat pola memang harus disesuaikan dengan ukuran tubuh pemilik baju. Tapi cara yang digunakan tetap sama. KETERANGAN POLA BADAN BELAKANG: A - B = 1,5 - 2 cm ; B - C = Panjang punggung ; C - D = A - E = ΒΌ Lingkar badan - 1 cm ; GradingPola Dasar Badan dan Lengan. 1. GRADING POLA DASAR OLEH: ETIK RATNAWATI MAHASISWA PPL UNY 2014. 2. UKURAN MELINGKAR. 3. Mengecilkan Lingkar Badan Dan Lingkar Pinggang β€’ Pada sisi badan dekat kerung lengan , buat tanda di dalam pola sebesar ΒΌ dari sesilish ukuran lingkar badan β€’ Pada sisi dekat pinggang, buat tanda di dalam pola kJ1Sxua. Bagaimana cara menggambar Pola Dasar Baju Wanita dengan sederhana ? Bagi para pemula yang ingin belajar untuk menjahit baju sendiri dan tidak punya waktu untuk mengikuti kursus menjahit, maka berikut ini adalah langkah-langkah untuk menggambar pola dasar baju wanita secara sederhana. Contoh Ukuran Lingkar Leher = 46 cm, Panjang Sisi = 17 cm Linkar Badan = 102cm, Panjang Bahu = 12 cm Lingkar Pinggang = 88 cm, Lebar Punggung = 42 cm Panjang Muka = 40 cm, Panjang Punggung = 38 cm Lebar Muka = 41 cm, Jarak Dada = 17 cm Tinggi Dada = 15 cm, Keterangan Pola Badan Muka A – B = 1/6 Lingkar Leher + 2 cm B – C = Panjang Muka C – D = A – E = 1/4 Lingkar Badan + 1cm A – A1 = 1/6 Lingkar leher + 0,5cm A1 – A2 = Panjang Bahu A2 – A3 = turun 4cm B – B1 = 5cm B1 – B2 = 1/2 Lebar Muka C – C1 = 1/4 Lingkar Pinggang + 1 + 3cm C – C2 = 1/10 Ligkar Pinggang + 1cm C2 – C3 = 3cm C1 – C4 = naik 1,5cm C4 – K = Panjang Sisi C – M = Tinggi Dada M – O = 1/2 Jarak Dada Keterangan Pola Badan Belakang A – B = – 2cm B – C = Panjang Punggung C – D = A – E = 1/4 Lingkar Badan – 1cm A – A1 = 1/6 Lingkar Leher + 0,5 cm A1 – A2 = Panjang Bahu A2 – A3 = Turun 3cm B – B1 = 10 cm B1 – B2 = 1/2 Lebar Punggung C – C1 = 1/4 Lingkar Pinggang – 1cm + 3cm C – C2 = 1/10 Lingkar Pinggang C2 – C3 = 3 cm C1 – K = Panjang Sisi Tips bagi pemula yang masih kesulitan untuk cara membuat pola dasar wanita di atas, maka bisa dengan menggunakan baju yang sudah tidak terpakai tapi masih pas di silet dan bukalah jahitannya, namun jangan semuanya melainkan hanya separuh saja, separuh bagian muka dan separuh bagian belakang, satu lengan dan kerah. Biarkan separuh bagian lainnya tetap terjahit, gunanya untuk referensi pada saat menjahit pakaian yang baru. Jika sudah mengetahui bagaimana membuat pola dasar baju wanita, selebihnya tinggal bagaimana mengembangkan pola dasar baju wanita ini menjadi kian cantik dengan bermacam-macam model busana. Contoh Ukuran Keterangan Pola Badan Muka Keterangan Pola Badan Belakang Menggambar pola bisa dimulai dari pola belakang terlebih dahulu. Yukk, simak penjelasannya di bawah ini Gambar Pola dasar badan depan dan belakang A – B = Β½ ukuran lingkar – C = ΒΌ lingkar badan ditambah 1 – B1 = 1,5 – D = ukuran panjang punggung, buat garis horizontal ketitik – B2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 titik B1 dengan B2 seperti gambar leher belakang.C – C1 = 5 cm, hubungkan ke titik B2 dengan garis putus-putus garis bantu.B2 dipindahkan ukuran panjang bahu melalui garis bantu diberi nama titik B3B3 – B4 = 1 cm, samakan ukuran B2 ke B4 dan dihubungkan dengan garis – G = Β½ panjang punggung ditambah 1 cm, buat garis horizontal kekiri dan beri nama titik – G1 = 9 – F1 = Β½ lebar punggung buat garis batas lebar punggung.Bentuk garis lingkar kerung lengan belakang mulai dari titik B4 menuju F1 terus ke F seperti – D1 = ΒΌ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm besar lipit kup dikurang 1 – D2 = 1/10 lingkar – D3 = 3 cm besar lipit kup.Dari D2 dan D3 dibagi 2, dibuat garis putus-putus sampai kegaris badan G dan H diukur 3 cm kebawah, dihubungkan dengan titikD2 dan D3 menjadi lipit – D1 = ΒΌ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 dihubungkan dengan F, menjadi garis sisi badan bagian belakang. Keterangan Pola Bagian Depan A – A1 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 – A2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1,5 titik A1 dengan A2 seperti gambar garis leher pola muka.A1 – C2 = ukuran panjang – A3 = 5 – F2 = Β½ lebar titik C2 ke F2 terus ke F seperti gambar lingkar kerung lengan bagian muka.E – E1 = 2 cm sama besarnya dengan ukuran kup sisi.E1 – E4 = ΒΌ lingkar pinggang ditambah 4 cm 3 cm besar lipit kupdan 1 cm untuk membedakan pola muka dengan belakang.E1 – E2 = 1/10 lingkar – E3 = 3 cm besar lipit kup.E2 dan E3 dibagi dua dibuat garis putus-putus sampai ke garis tengah – J = ukuran tinggi J dibuat garis sampai ke – J2 = 2 cm, lalu dihubungkan dengan titik E2 dan E3 membentuk lipit – I = 9 cm, lalu dihubungkan dengan garis putus-putus ke titik – K = 2 I ke I1 dan I2 diukur masing-masing 1 cm, lalu hubungkan dengan titik – K = I2 – K, yang dijadikan patokan panjang adalah ukuran I1 ke dihubungkan dengan I2 dan titik I1 dengan F, menjadi garis sisi badan bagian muka. Gambar Pola lengan Ukuran pola lengan 1. Lingkar kerung lengan = 40 cm diukur dari pola badan 2. Tinggi puncak lengan = 12 cm 3. Panjang lengan = 24 cm Keterangan A – B = panjang – C = ukuran tinggi puncak lengan, buat garis sampai ke titik D dan E, setelah diukur dari titik A Β½ lingkar kerung lengan yang ukurannya bertemu dengan garis dari tititk garis putus-putus garis bantu dari A ke D dan dari A ke bantu dari A ke D dan A ke E dibagi tiga. 1/3 dari A ke D diberi titik A1 dan dari A ke E dinamakan titik – A4 = A2 – A3 = 1,5 D1 = 1/3 D – AD ke D1 dibagi dua dinamakan titik – D3 = 0,5 A dengan A4 dengan D1, D3 dan D seperti gambar lingkar kerung lengan bagian muka.Hubungkan A dengan A3 dan E seperti gambar lingkar kerung lengan bagian belakang.G – G1 = E1 – E2 = 1,5 E dengan E2 sisi lengan bagian belakang, dan D dengan G seperti gambar sisi lengan bagian muka Selamat mencoba …. Sebelum menjahit, langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan mengukur beberapa bagian badan yang akan dijadikan pola dasar. Mengukur badan dan membuat pola adalah langkah yang sangat penting, karena kedua langkah ini merupakan dasar dari pembuatan pakaian. Sehingga setelah mengukur badan dan menggambarnya pada pola dasar, kita mungkin tidak perlu mengulanginya lagi setiap akan membuat pakaian. Dengan kata lain, pola yang telah kita buat dapat kita gunakan berkali-kali. Dalam mengukur badan, hal yang perlu diperhatikan adalah ketepatan ukuran-ukuran badan yang kita peroleh. Alat yang kita gunakan untuk mengukur badan adalah meteran jahit, sehingga ukuran dapat langsung dituliskan pada buku menjahit. Beberapa bagian badan yang perlu di ukur diantaranya 1. Lingkar Badan LB Diukur bagian badan yang paling besar melingkari buah dada melalui ketiak terus lurus ke bagian belakang. Mula-mula ukuran sebenarnya, kemudian ditambah 4 cm. 2. Panjang Dada PD Diukur dari lekuk leher sampai batas pinggang. 3. Lebar Dada LD Diukur dari lengan kiri sampai lengan kanan pada tinggi setengah jarak bahu yang terendah, sampai ketiak atau Β± 5cm di bawah lekuk leher. 4. Panjang Sisi PS Ketiak diberi mistar. Diukur dari bawah ketiak turun 2cm sampai pinggang. 5. Lebar Bahu LBu Diukur dari batas leher sampai bahu yang terendah bagian luar. 6. Lingkar Leher LL Diukur sekeliling leher ukuran sebenarnya. 7. Tinggi Dada TD Diukur dari tinggi payudara sampai pinggang. 8. Lingkar Pinggang LP Diukur sekeliling bagian yang diikat dengan meteran badan ditambah 1cm. 9. Panjang Punggung PP Diukur dari tulang leher yang menonjol sampai batas pinggang yang telah di ikat dengan tali. 10. Lebar Punggung LPu Diukur dari lengan kiri sampai ke lengan kanan pada Β½ tinggi jarak bahu yang terendah, sampai ketiak atau 8cm di bawah tengkuk leher. 11. Ukuran Pemeriksa UP Diukur dari batas tengah muka Β½ pinggang serong ke arah payudara melalui bahu yang terendah terus ke tengah belakang Β½ pinggang. 12. Jarak Payudara JPD Diukur dari puncak payudara sebelah kiri ke sebelah kanan. 13. Lingkar Kerung Lengan LKL Di ukur sekeliling ketiak dalam keadaan ukuran sebenarnya, kemudian ditambah 4cm. Metode pembuatan pola menggunakan metode yang digunakan oleh Herawaty Sarono dalam bukunya yang berjudul Pelajaran Menjahit Pakaian Wanita dan Anak Jilid 1 1999’. Ada beberapa metode pembuatan pola lainnya yang mungkin banyak digunakan seperti Meyneke, Dankaerts, Charmant, Cuppens-Geurs, Dress Making, dan So’en. Kita dapat memakai metode pembuatan manapun sesuai dengan keinginan kita. Pengukuran untuk membuat pola menggunakan penggaris ΒΌ agar skala sesuai dengan ukuran aslinya. Ukuran-ukuran yang diperlukan antara lain Lingkar Badan = 94 cm 8. Lingkar Pinggang = 80 cm Panjang Dada = 36 cm 9. Panjang Punggung = 39 cm Lebar Dada = 34 cm 10. Lebar Punggung = 36 cm Panjang Sisi = 18,5 cm 11. Ukuran Pemeriksa = dpn 45cm; blkg 44cm Lebar Bahu = 13 cm 12. Lingkar Kerung Lengan = 37 cm Lingkar Leher = 36 cm 13. Jarak Payudara = 9,4 cm Tinggi Puncak = 19 cm *PS pola menggunakan ukuran pribadi, dapat disesuaikan dengan ukuran masing-masing. Gambar di bawah ini merupakan contoh skala-skala dalam menggambar pola dasar pakaian wanita skala di sesuaikan. Gambar 1. Pola Dasar Menjahit Pakaian Wanita Membuat pola badan belakang o A-B = Β½ lingkar badan = 94 2 = 47 cm o A-E = E-D = D-B = 1/3 A-B = 47 cm 3 = 15,7 cm o B-F = turun 2 cm o B-C = 1/6 Lingkar Leher + Β½ cm = 36 cm 6 + Β½ = 6,5 cm o Hubungkan titik C-F = kerung leher belakang o F-G = panjang punggung = 39 cm o G-H = panjang sisi = 18,5 cm o H-T = ΒΌ lingkar badan – 1 cm = 94 cm 4 – 2 cm = 21,2 cm o F-Y = Y=H = 39 – 18,5 cm 2 = 10,2 cm o Y-W = Β½ lebar punggung = 36 cm 2 = 18 cm o D-D’ = turun 3 cm o Hubungkan titik C dengan D dan ukurlah C-R adalah lebar bahu = 13 cm o Buat lingkar kerung lengan belakang dari titik R-W-T seperti pada gambar o Dari G ditarik garis siku-siku ke kiri dan ukur G-N = ΒΌ lingkar pinggang – 1 cm + coup = 80,5 cm 4 – 1 cm + 3 cm = 22 cm o Hubungkan titik T dengan N Membuat coup belakang o G-U = 1/10 lingkar pinggang = 80,5 cm 10 = 8,05 cm o U-U’ = 3 cm, lebar coup dan tinggi coup 4 cm di bawah garis H-T Membuat pola badan depan o H-K = A-B = Β½ lingkar badan = 47 cm o A-A’ = ke kanan 2 cm o A-L = A-O = 1/6 lingkar leher + 2 Β½ cm = 8,5 cm o Buat kerungan leher depan dari titik O melengkung sampai titik L o E-E’ = turun 2 cm o Hubungkan titik O dengan titik E’ dan ukur O-Q = 13 cm = lebar bahu o Buatlah garis dari A’ dan memotong garis lengkung L-O di titik L o L’-M’ = panjang dada = 36 cm o L’-Z = turun 5 cm o Z-Z’ = Β½ lebar dada = 34 cm 2 = 17 cm o Buat kerung lengan depan dari titik Q-Z-T seperti pada gambar o Dari titik M di tarik garis siku-siku ke kanan dan ukur M’-S = ΒΌ lingkar pinggang + 1 cm + coup = 80,5 cm 4 + 1 cm + 3 cm = 24 cm Membuat coup depan o M’-X = Β½ jarak payudara = 9,5 cm o X-X’ = tinggi puncak = 19 cm o Tinggi coup depan = 19-2 cm = 17 cm Membuat coup sisi/coup dada o T-T’ = turun 7 cm o S-S’ = panjang sisi – T-T’ = 18,5 – 7 cm = 11,5 cm o T’-S’ = lebar coup dada/coup sisi o Panjang coup sisi ke kanan 2 cm dari titik X’ o Kontrol ukuran pemeriksa dan lingkar kerung lengan. Setelah pola digambar pada buku menjahit, umumnya kita dapat mewarnai pola bagian depan dengan pensil pola warna merah dan pola bagian belakang dengan warna biru. Namun, pewarnaan pola dapat disesuaikan dengan selera, karena tujuannya hanya membantu kita untuk dapat dengan mudah membedakan pola badan bagian depan dan belakang yang nantinya akan kita gambarkan pada kertas pola untuk memotong bahan. Pengukuran badan dan pembuatan pola harus dilakukan secara teliti dan hati-hati karena sangat krusial dan menentukan ukuran bahan yang akan digunakan. Hal inilah yang nantinya juga akan menentukan keberhasilan kita dalam menjahit pakaian. Apakah jahitan akan rapi atau tidak, apakah pakaian yang di jahit akan cukup digunakan atau tidak hehe... Selamat mencoba, semoga membantu! 😊 Dasar Pola 1 SMK Kelas X - Semester 2 - Kurikulum 2013 Mempelajari Dasar Pola adalah langkah awal atau kompetensi awal yang paling mendasar yang harus dikuasai bagi seseorang yang akan mempelajari pembuatan pola baik pola dasar, maupun pola busana sesuai desain, khususnya pola busana wanita. Modul tentang Dasar Pola akan membahas tentang apa saja hal-hal yang mempengaruhi pembuatan pola agar pola yang dibuat sesuai dengan ukuran, sesuai dengan desain dan sesuai dengan bentuk tubuh seseorang atau model,serta agar busana yang dibuat nyaman dan enak dipakai. Oleh sebab itu sebalum membuat pola harus terlebih dahulu mempelajari dan mendalami pengetahuan dan keterampilan tentang Dasar Pola. Materi Dasar Pola adalah mencakup Titik dan garis tubuh, Susunan tubuh manusia yang berkaitan dengan pembuatan pola busana, Analisis Bentuk Tubuh, Cara Mengukur Model, dan Bonekadummy. Pada bagian terakhir dari modul bahan ajar ini juga akan membahas tentang bagaimana cara membuat pola dasar yang paling sederhana, yaitu dengan cara memulir lansung pada tubuh model yang biasa disebut dengan pembuatan pola dasar dengan teknik draping. Untuk melengkapi pemahaman dan pengalaman Anda, pada bahan ajar ini juga menyajikan contoh dari salah satu bentuk pola dasar. Ikhtisar Lengkap Penulis Tim BSE Penerbit Buku Sekolah Elektronik BSE Terbit Desember 2013 , 211 Halaman ο»Ώ58 dari pola badan bagian atas, dari bahu sampai pinggang biasa disebut pola dasar badan muka dan belakang. Pola lengan bagian atas atau bahu terendah sampai siku atau pergelangan tangan biasa disebut pola dasar lengan. b. Pembuatan Pola Dasar Sistem Praktis 1 Pola Sistem Praktis Pola sistem praktis untuk pola badan yang memiliki kup yang terletak dipinggang. Pola dasar badan digambar menjadi satu antara pola badan muka dan pola badan belakang. Widjiningsih,dkk, 199426 Menurut Urip Wahyuningsih dkk, 200511 Pola dasar sistem praktis merupakan pola badan pola badan bagian muka dan belakang dibuat terpisah. Berdasarkan penjelasan diatas terdapat perbedaan antara sistem pola praktis menurut Widjiningsih,dkk dan Urip Wahyuningsih,dkk perbedaannya terletak pada pembuatan pola badan bagian muka dan belakang digambar menjadi satu sedangkan menurut Urip Wahyuningsih pembuatan pola badan bagian muka dan belakang dibuat terpisah. Siswa pada umumnya lebih senang menggunakan pola dasar sistem praktis dalam pembuatan busana wanita karena jenis ukuran 59 yang dipakai lebih sedikit dibandingkan sistem pola lainnya dan teknik pembuatannya sederhana simple sehingga lebih efisien dan cepat dalam pengerjaanya. Ukuran yang digunakan pada pembuatan pola dasar badan sistem praktis yaitu Lingkar Leher Lingkar badan Lingkar pinggang Panjang Muka Lebar Muka Lebar punggung Panjang punggung Lebar bahu tinggi dada Di bawah ini merupakan cara membuat pola dasar dengan sistem praktis, misalnya dengan ukuran sebagai berikut a Lingkar leher = 35 cm b Lingkar badan = 84 cm c Lingkar pinggang = 64 cm d Panjang punggung = 36 cm e Lebar punggung = 32 cm f Panjang sisi = 17 cm g Lebar muka = 30 cm h Panjang muka = 31 cm i Tinggi dada = 17 cm j Panjang bahu = 11 cm 60 Gambar pola dasar badan sistem praktis skala 1 ΒΌ Gambar 24. Pola Dasar Badan Sistem Praktis Urip Wahyuningsih, 11 61 2 Langkah – langkah pembuatan pola dasar badan sistem praktis Keterangan pola dasar badan bagian depan a a – b = ΒΌ lingkar badan + 2 cm b a – c = 18 . Β½ lingkar badan + 2 cm c a – d = 18 . Β½ lingkar badan + 1 cm kemudian buat kerung lengan d c – e = panjang muka e b – b’ = 110 . Β½ lingkar badan f d – d’ = panjang bahu g d – h = d’- h = Β½ lebar bahu h f – f’ =2 cm i e – e’_ i – f = ΒΌ lingkar pinggang + 1 cm j f’ – y = panjang sisi Keterangan pola dasar badan bagian belakang a a – b = panjang punggung + 1 cm b b – b’ =1cm c a – c = b – d =14 lingkar badan – 1 cm d b – e = 18 . Β½ lingkar badan - 1 cm buat kerung lengan 62 e d – f = 110 . Β½ lingkar badan f e – e’ = panjang bahu g e – g = e’- g = Β½ ee’ h a – a’ = 110 lingkar pinggang - 1cm i a’ – h = 3 cm j a – a’ + h – h = ΒΌ lingkar pinggang – 1 cm k a – i = c – c’ = panjang sisi buat kupnat l b’ – y’ = i – y = Β½ b’t m y – k’ = Β½ lebar punggung, buat kerung lengan B. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN Penelitian yang dilakukan oleh Sulistyoningrum 2005 yang berjudul Identifikasi Hambatan Siswa Mempelajari Mata Diklat Membuat Pola Busana Sesuai Konstruksi dan Model Di Kelas I SMKN 6 Yogyakarta. hasil penelitian menunjukkan bahwa Diketahui bahwa tingkat kategori hambatan belajar siswa dalam mempelajari mata diklat membuat pola busana sesuai konstruksi dan model secara keseluruhan baik dari segi internal maupun eksternal berada pada kategori sedang dengan persentase 83,3. Teridentifikasi hambatan belajar yang berasal dari internal siswa yaitu siswa sering mengalami kelelahan, sebagian besar siswa tidak dibekali dengan bakat di bidang busana, siswa sungkan bertanya kepada guru jika menumui kesulitan, kurangnya inisiativ untuk mencari informasi di bidang busana, 63 motifisi yang kurang. Teridentifikasi hambatan belajar yang berasal dari eksternal siswa yaitu ruang kelas sempit, meja belajar kecil, modul tidak lengkap, minimnya media pengajaran, tim pengajar sering kali memberikan tugas dengan metode penyelesaian yang berbeda. Diketahui bahwa tingkat kategori hambatan belajar siswa dalam mempelajari kompetensi secara keseluruhan pada mata diklat membuat pola busana sesuai konstruksi dan model berada pada tingkat sedang dengan persentase 42,4. Hambatan belajar yang menurut siswa dirasa paling ,menghambat dalam kegiatan belajar adalah ha,mbatan yang berasal dari factor internal yaitu aspek kesehatan siswa dengan persentase sebesar 76. Hal ini dapat dilihat dari semangat belajar dan kemampuan berkonsentrasi yang menurun pada akhir jam mata diklat, disebabkan karena jam belajar yang panjang dan metode belajar yang kurang bervariasi . hambatan belajar yang menurut siswa paling banyak ditemui dalam mempelajari mata diklat membuat pola busana sesuai dengan konstruksi dan model terdapat pada sub kompetensi pecah pola dengan persentase kategori 30 menyetakan sangat tinggi, 30 menyatakan tinggi, dan 40 menyatakan sedang. Penelitian yang dilakukan oleh Sumiyati 2005 Kesulitan Praktik Menjahit II Siswa kelas II Program Keahlian Tata Busana di SMK N 2 Godean Tahun Pelajaran 2004 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesulitan belajar praktik menjahit II ditinjau dari faktor pemahaman 64 siswa pada materi pelajaran termasuk pada kategori sulit dengan rerata 38,46. Kesulitan tersebut pada materi pelajaran pembuatan pola, pecah model dan pembuatan disain sketsa. Tingkat kesulitan belajar ini ditinjau dari faktor minat siswa tergolong sulit dengan rerata 37,79. Tingkat kesulitan belajar ditinjau dari factor perhatian orang tua tergolong sulit dengan rerata 17,70. Tingkat kesulitan belajar ditinjau dari factor peralatan yang ada di sekolah tergolong cukup sulit karena peralatan praktik menjahit tidak dapat digunakan secara keseluruhan, sedang peralatan praktik yang dimiliki siswa di rumah tergolong memadai sebanyak 91,25 dan sebanyak 8,75 memiliki peralatan praktik menjahit cukup memadai. Tingkat kesulitan belajar praktik menjahit II di SMK N 2 Godean Tahun Ajaran 2004 2005 pada kategori sulit dengan rerata 118,51 Dari berbagai penelitian di atas rata-rata meneliti tentang tingkat kesulitan belajar ditinjau dari berbagai factor, dan belum ada yang meneliti tentang identifikasi tingkat kesulitan belajar siswa pada proses pembuatannya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam lagi tentang adanya kesulitan-kesulitan pada tahap proses pembuatan blus dari tahap proses yang meliputi Proses pembuatan disain, Mengambil ukuran untuk membuat pola dasar, Pengambilan ukuran untk membuat pola blus, Pembuatan pola dasar dengan skala 14, Mengubahmembuat pola blus sesuai disain dengan skala 14, Merancang bahan secara rinci dan global, Membuat 65 pola dasar ukuran sebenarnya, Membuat pola blus sesuai disain dengan ukuran sebenarnya. Tahap Proses meliputi Memeriksa pola, Menyiapkan tempat alat dan bahan untuk memotong dengan memperhatikan K3, Memotong bahan dengan memperhatikan K3, Memindahkan tanda-tanda pola, Melakukan pengepresan dengan memperhatikan K3, Menjahit bagian- bagian busana sesuai disain dengan memperhatikan K3, Menyelesaikan busana wanita dengan jahitan tangan dan Penghitungan Harga Jual. C. KERANGKA BERFIKIR Kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam belajar merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menghalang-halangi atau memperlambat seorang siswa dalam mempelajari, memahami serta menguasai sesuatu. Adanya kesulitan belajar akan menimbulkan suatu keadaan dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya sehingga memiliki prestasi belajar yang rendah. Kesulitan belajar dapat ditandai dengan nilai rata-rata siswa rendah, nilai rata- rata siswa yang rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal maupun faktor eksternal. Kesulitan belajar dari faktor internal antara lain kesehatan yang kurang baik, bakat yang tidak sesuai dengan apa yang dipelajari, tidak memiliki minat yang kuat, motivasi yang kurang serta emosi yang labil sehingga tidak siap dalam menerima pelajaran. Sedangkan faktor eksternal antara lain fasilitas belajar yang kurang memadai, teman sebaya

cara membuat pola dasar badan